JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesediaannya menghentikan perang dengan Iran walau Selat Hormuz tetap tertutup, menurut laporan eksklusif Wall Street Journal yang dirilis Selasa (31/3/2026). Keputusan kontroversial ini langsung mempengaruhi pasar minyak dunia dan mengerek indeks saham di Asia.
- Kebijakan Trump Terhadap Iran
- Dampak pada Pasar Global
- Reaksi Teheran dan Diplomasi
- Skenario Militer yang Dipertimbangkan
Kebijakan Trump Terhadap Iran
Trump mengungkapkan posisinya dalam pertemuan tertutup dengan para pembantunya. Ia meyakini operasi militer untuk membuka Selat Hormuz justru akan memperluas konflik melebihi target waktu empat hingga enam minggu yang telah ditetapkan.
Prioritas Non-Militer
"Presiden memiliki opsi militer, tetapi itu bukan prioritasnya," jelas pejabat administrasi kepada WSJ seperti dikutip Reuters dan AFP. Administrasi Trump lebih memilih pendekatan diplomatik untuk membuka kembali selat strategis tersebut.
Laporan tersebut mengungkap rencana bertahap Washington:
- Melumpuhkan kemampuan angkatan laut dan rudal Iran
- Mengurangi intensitas permusuhan secara bertahap
- Memberikan tekanan diplomatik kepada Teheran
- Melibatkan sekutu Eropa dan Teluk jika upaya sebelumnya gagal
Dampak pada Pasar Global
Pengumuman ini langsung mempengaruhi pasar komoditas dan keuangan global. Harga minyak mengalami penurunan signifikan hanya beberapa jam setelah laporan beredar.
Penurunan Harga Minyak
Minyak mentah Brent turun 1,3% ke level US$106,04 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate melemah 0,7% menjadi US$102,22 per barel.
Respons Bursa Asia
Indeks saham di Asia merespons positif berita ini. Hang Seng Hong Kong naik 0,5% ke level 24.869,71 poin. Indeks Komposit Shanghai juga menguat 0,3% menjadi 3.935,05 poin.
Reaksi Teheran dan Diplomasi
Pernyataan Trump muncul setelah serangkaian perkembangan diplomatik yang tegang. Sehari sebelumnya, presiden AS itu mengancam akan menghancurkan Pulau Kharg jika kesepakatan damai tidak tercapai.
Kontradiksi Pernyataan
Trump menyebut sedang berkomunikasi dengan "rezim yang lebih masuk akal" di Teheran. Namun pemerintah Iran membantah keras adanya pembicaraan tersebut. Mereka menuduh Trump menggunakan negosiasi sebagai kedok untuk persiapan invasi darat.
Pernyataan Pejabat AS
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengkonfirmasi adanya upaya diplomatik. "Kami berharap dapat bekerja sama dengan elemen-elemen dalam pemerintahan Iran," ujarnya tanpa merinci lebih lanjut.
Skenario Militer yang Dipertimbangkan
Meski mengutamakan diplomasi, Pentagon tetap menyiapkan berbagai skenario militer. Ancaman Trump terhadap infrastruktur energi Iran menunjukkan keseriusan posisi Washington.
Ancaman terhadap Pulau Kharg
Dalam cuitannya, Trump mengancam akan menghancurkan "semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg". Pulau ini menjadi pusat ekspor minyak mentah Iran yang vital bagi perekonomian negara tersebut.
Kekhawatiran Para Ahli
Analis pasar memperingatkan skenario terburuk. Operasi darat AS atau pembalasan besar-besaran Iran bisa mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak Juli 2008. Saat itu, harga Brent hampir menyentuh US$150 per barel.
Dampak Potensial
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan mengganggu 20% pasokan minyak global dan 25% pasokan gas dunia. Negara-negara importir energi akan merasakan dampak paling signifikan.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan kompleksitas konflik AS-Iran yang telah berlangsung beberapa pekan. Pasar global tetap waspada menunggu keputusan akhir Trump dan respons konkret dari Teheran dalam hari-hari mendatang.