JAVASCORNER.CO.ID, JAKARTA - Anggota DPR RI Surya Utama alias Uya Kuya melaporkan dugaan penyebaran hoaks ke Polda Metro Jaya pada Sabtu (18/4/2026). Isu viral menyebut politisi itu memiliki 750 dapur program makan bergizi gratis (MBG) dengan pendapatan mencapai Rp4,5 miliar per hari.
Latar Belakang Isu Viral
Isu ini pertama kali muncul di media sosial Threads. Sebuah akun mengunggah perhitungan yang menyebut Uya Kuya memperoleh pendapatan fantastis dari program MBG.
Unggahan tersebut dilengkapi foto Uya Kuya dengan latar aktivitas dapur. Gambar itu seolah-olah membuktikan keterlibatannya dalam program pemerintah tersebut.
Kronologi Penyebaran
Informasi ini dengan cepat menyebar ke berbagai platform media sosial. Dalam hitungan jam, isu tersebut menjadi trending topic dengan ribuan komentar dan share.
Bantahan Tegas Uya Kuya
Uya Kuya langsung membantah keras isu tersebut. Ia menyatakan tidak memiliki satupun dapur MBG.
"Sampai saat ini saya tidak punya satupun dapur MBG kecuali dapur restoran saya di Benhil namanya Asli Rasa," tegasnya Senin (20/4/2026).
Kebingungan atas Narasi
Politisi Partai Gerindra ini mengaku heran dengan narasi yang beredar. Ia mempertanyakan asal-usul informasi yang menurutnya sama sekali tidak berdasar.
"Dari mana itu cerita saya punya dapur MBG?" tanyanya dengan nada frustrasi.
Langkah Hukum ke Polisi
Uya Kuya mengambil langkah tegas dengan melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Laporan polisi telah teregistrasi dengan nomor LP/B/2746/IV/2026/SPKT/Polda Metro Jaya.
Konfirmasi Polisi
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan laporan tersebut. Polisi sedang memproses laporan yang masuk pada Sabtu lalu.
"Laporan sudah kami terima dan sedang dalam proses penyelidikan," kata Budi Hermanto.
Proses Hukum Berjalan
Tim penyidik telah mulai mengumpulkan bukti-bukti digital. Mereka memeriksa unggahan asli yang menjadi sumber penyebaran hoaks.
Dampak Penyebaran Hoaks
Uya Kuya mengungkapkan dampak serius dari penyebaran hoaks ini. Ia menyebut informasi tidak benar telah merugikan dirinya secara personal dan profesional.
Trauma Masa Lalu
Politisi ini masih trauma dengan peristiwa penjarahan rumahnya beberapa waktu lalu. Kejadian itu juga dipicu oleh penyebaran video hoaks yang dimanipulasi.
"Karena hoaks, mengingat penjarahan rumah saya kan juga karena video-video hoaks masif beredar," kenangnya.
Manipulasi Konten Lama
Uya Kuya menjelaskan pola yang sama terulang. Video-video lamanya dari TikTok diedit dengan tambahan teks seolah-olah itu pernyataannya.
"Banyak video-video lama dari TikTok saya dikasih tulisan-tulisan seolah-olah itu statement saya," ujarnya.
Kerugian Material dan Non-Material
Kerusakan rumah akibat penjarahan masih belum selesai direnovasi. Kini ia harus menghadapi fitnah baru yang sama merusaknya.
"Mereka mau apa lagi dari saya? Udah kemarin rumah dan keluarga saya dikorbankan," keluhnya.
Dampak Psikologis
Tekanan psikologis menjadi beban tambahan. Uya Kuya mengaku terus difitnah padahal tidak melakukan kesalahan apapun.
Penyebaran hoaks ini juga berpotensi merusak reputasi program MBG pemerintah. Masyarakat mungkin menjadi skeptis terhadap program bantuan sosial yang legit.
Permintaan Keadilan
Uya Kuya berharap polisi dapat menindak tegas pelaku penyebar hoaks. Ia ingin keadilan ditegakkan agar kasus serupa tidak terulang di masa depan.
"Saya hanya ingin hidup tenang tanpa terus menerus difitnah," harapnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Masyarakat diimbau lebih kritis terhadap konten viral di media sosial. Polisi berjanji mengusut tuntas laporan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap warga negara dari kejahatan siber.