JAVASCORNER.CO.ID, BANDUNG - Sebuah video menampilkan lagu kontroversial yang dinyanyikan Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung viral di media sosial. Lagu berjudul 'Erika' itu memuat lirik diduga melecehkan perempuan, muncul tak lama setelah kasus serupa di Universitas Indonesia.
- Video Viral dan Konten Lirik
- Reaksi Publik dan Kritikan
- Konteks Kasus Sebelumnya di UI
- Tanggapan dari Kampus ITB
Video Viral dan Konten Lirik
Video tersebut pertama kali diunggah akun X @iPoopBased pada Senin, 13 April 2026. Rekaman menunjukkan suasana riuh di sebuah acara kampus. Puluhan mahasiswa tampak berkumpul di panggung, berjoget mengikuti irama musik.
Yang menjadi sorotan adalah lirik lagu 'Erika' yang dinyanyikan kelompok mahasiswa tersebut. Beberapa kalimat dalam lagu itu dinilai mengobjektifikasi perempuan.
Potongan Lirik Kontroversial
- "Erika buka celana..."
- "Sambil bawa botol Fanta..."
- "Siapa mau boleh coba"
Video berdurasi sekitar dua menit itu menunjukkan antusiasme peserta acara. Baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan terlihat aktif menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.
Reaksi Publik dan Kritikan
Warganet langsung bereaksi setelah video beredar luas. Banyak yang menyayangkan konten lirik yang dianggap tidak pantas dinyanyikan di lingkungan kampus ternama.
Akun @iPoopBased yang mengunggah video tersebut menulis kritikan pedas. "Ini anak HMT ITB isinya cabul sama mesum semua apa gimana ya?" tulisnya dalam unggahan yang telah dibagikan ribuan kali.
Respons di Berbagai Platform
Diskusi tentang video ini menyebar ke berbagai platform media sosial:
- Twitter menjadi episentrum perbincangan dengan ribuan tweet
- Forum mahasiswa online membahas implikasi etis
- Grup WhatsApp kampus memperdebatkan batasan humor mahasiswa
Beberapa alumni ITB juga ikut menyuarakan keprihatinan. Mereka menekankan pentingnya menjaga reputasi almamater dan menghormati kesetaraan gender.
Konteks Kasus Sebelumnya di UI
Viralnya video ini terjadi dalam konteks yang sensitif. Beberapa waktu sebelumnya, Universitas Indonesia juga menghadapi kasus serupa yang melibatkan dugaan pelecehan terhadap perempuan.
Di Fakultas Hukum UI, dilaporkan 20 mahasiswi menjadi korban pelecehan. Tujuh di antaranya bahkan merupakan dosen. Kasus itu masih dalam proses penyelidikan ketika video dari ITB muncul.
Pola yang Mengkhawatirkan
Munculnya dua kasus serupa dalam waktu berdekatan menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini menunjukkan pola budaya kampus yang perlu diperbaiki?
Pengamat pendidikan tinggi menyoroti pentingnya pendidikan karakter di perguruan tinggi. Mereka menekankan bahwa institusi pendidikan harus menjadi contoh dalam menghormati hak perempuan.
Tanggapan dari Kampus ITB
Hingga berita ini ditulis, pihak ITB belum memberikan pernyataan resmi. Namun sumber internal menyebutkan bahwa pihak kampus telah memantau perkembangan kasus ini.
Biro Kemahasiswaan ITB dikabarkan sedang mengumpulkan informasi lengkap tentang acara tersebut. Mereka berencana memanggil pengurus HMT untuk klarifikasi.
Mekanisme Disiplin Kampus
ITB memiliki peraturan disiplin mahasiswa yang jelas. Pelanggaran norma kesopanan dan etika bisa berujung pada sanksi tegas. Sanksi tersebut bervariasi, mulai dari peringatan lisan hingga skorsing.
Beberapa kemungkinan langkah yang akan diambil pihak kampus:
- Pemanggilan resmi pengurus HMT
- Penyelidikan internal oleh biro kemahasiswaan
- Koordinasi dengan dosen pembina organisasi
- Evaluasi kegiatan kemahasiswaan ke depan
Kasus ini mengingatkan kembali pada pentingnya pendidikan karakter di lingkungan kampus. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak intelektual unggul, tetapi juga membangun moralitas mahasiswa. Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari ITB dalam menangani isu sensitif ini, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia.