Regional

Viral Anak Makan Rumput di Bandung Barat, Sosiolog: Cermin Kemiskinan dan Lemahnya Perlindungan Sosial

Raka Pratama Raka Pratama 29 Apr 2026 19:28 38 Views
Ilustrasi anak makan rumput di Bandung Barat

Ilustrasi anak makan rumput di Bandung Barat

JAVASCORNER.CO.ID, BANDUNG BARAT - Viral di media sosial video seorang anak penyandang disabilitas memakan rumput di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuai sorotan. Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Ari Ganjar menilai kejadian ini bukan sekadar kasus individu, melainkan cerminan kemiskinan dan lemahnya perlindungan sosial terhadap kelompok rentan.

Sorotan Sosiolog: Kerentanan Ganda Anak Disabilitas Miskin

Video Muhammad Rizki (11) atau Kiki, anak disabilitas asal Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, yang memakan rumput menjadi perbincangan luas. Ari Ganjar menegaskan kasus ini harus dilihat dari perspektif sosial yang lebih luas.

“Secara sosiologis, anak ini termasuk dalam kerentanan ganda, pertama dia mengalami kemiskinan, kedua disabilitas. Lingkungan sosial di sekitar anak itu sepertinya tidak memungkinkan untuk memberikan perhatian yang diperlukan,” ujar Ari saat dihubungi, Rabu (29/4/2026).

Ayah Kiki, Asep Setiawan (49), mengatakan kebiasaan Kiki memakan dedaunan dipengaruhi kondisi mental dan faktor ekonomi. Kebiasaan itu sudah muncul sejak Kiki berusia sekitar empat tahun dan terus berulang hingga sekarang.

Kemiskinan Picu Perilaku Ekstrem pada Anak Disabilitas

Ari menjelaskan, keluarga miskin umumnya memiliki keterbatasan ekonomi, pengetahuan, dan kemampuan dalam menangani anak disabilitas. Hal ini mendorong perilaku ekstrem seperti memakan rumput.

“Keluarga yang miskin terjebak dalam ketidakmampuan memberikan makanan yang bernutrisi cukup dan tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan dalam menangani anak disabilitas,” tutur Ari.

“Kondisi demikian bisa jadi mendorong anak disabilitas berupaya bertahan hidup (mengatasi kelaparan) berdasarkan kondisi apa yang ada di sekitarnya, dan keluarganya tidak mampu berbuat banyak karena keterbatasan,” imbuhnya.

Tingkat kemiskinan sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan perilaku anak disabilitas, terutama jika keluarga tidak tersentuh bantuan pemerintah maupun pendampingan masyarakat.

“Ini tergantung dari tingkat kemiskinannya, misalnya pada keluarga miskin yang parah dan tidak terjangkau oleh pihak yang mampu memberi bantuan, baik itu dari agen pemerintah atau kalangan masyarakat sipil, maka semakin keluarga atau lingkungan sosialnya tidak mampu mengantisipasi perilaku ekstrem dari penyandang disabilitas,” sebut Ari.

Menurut Ari, keluarga miskin dengan anak disabilitas juga kerap terisolasi dari lingkungan sosial yang dapat membantu penanganan maupun pendampingan.

“Biasanya peran keluarga miskin sangat terbatas, karena kondisi mereka yang kurang memadai baik secara ekonomi, pengetahuan, dan kemampuan menangani. Mereka pun cenderung terisolir dari lingkungan sosial yang bisa memberikan bantuan,” jelas Ari.

Perlindungan Sosial Dinilai Masih Lemah

Ari juga menyoroti masih lemahnya sistem perlindungan sosial terhadap kelompok disabilitas di tingkat lokal.

“Perlindungan terhadap kelompok disabilitas masih tergolong lemah, meskipun pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat sipil terus berusaha,” sebutnya.

“Salah satu masalahnya adalah pada komunitas warga miskin, mereka kurang memiliki kapasitas kelembagaan untuk perlindungan terhadap anak-anak disabilitas,” lanjut Ari.

Ia mendorong pemerintah daerah, aparat kewilayahan seperti RT/RW, hingga kelompok masyarakat sipil lebih proaktif dalam mengadvokasi dan melindungi anak-anak disabilitas dari keluarga kurang mampu.

“Dengan kasus ini, pemerintah harus semakin memberikan perhatian kepada anak-anak penyandang disabilitas terutama di kalangan warga miskin,” kata Ari.

Ari juga meminta relawan dan kelompok warga seperti kader PKK diperkuat dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan insentif agar mampu menjangkau anak-anak disabilitas di lingkungan miskin.

“Kelompok warga, relawan, seperti kader PKK, perlu mendapat keterampilan, pengetahuan dan insentif lebih supaya lebih optimal dalam menjangkau anak-anak disabilitas terutama di komunitas-komunitas warga miskin,” tandasnya.

Viralnya video Kiki menjadi pengingat bahwa masih banyak kelompok rentan yang terabaikan. Harapannya, kejadian ini mendorong perbaikan sistem perlindungan sosial dan kepedulian semua pihak terhadap anak-anak disabilitas dari keluarga miskin.

Raka Pratama

// Verified Author

Raka Pratama

Staff Redaksi

Meliput berita harian dan pembaruan industri IT di Indonesia.

▸ TAG TOPIK

#anak makan rumput #kemiskinan #perlindungan sosial #Bandung Barat #disabilitas

Kotak Diskusi.

Belum ada percakapan. Mulailah diskusi!

Artikel Terbaru Lainnya

Thumbnail

5 Cara Terpercaya Hasilkan Uang dari Internet di 2026, Modal Kecil

Thumbnail

Cara Rehabilitasi Narkoba di BNN: Gratis, Rahasia, dan Lengkap

Thumbnail

Darurat Narkoba: 50 Orang Meninggal Setiap Hari, BNN Rilis Data Terbaru

Thumbnail

Panduan Jual Akun Last Fortress: Underground Agar Laku Mahal

Thumbnail

Pramono Anung Minta Sopir Alphard Cekcok dengan Satpam Bundaran HI Diberi Sanksi

Thumbnail

Kakek di Wajo Ngamuk dan Ludahi Kasir Ayam Goreng Gegara Ditanya 'Ada Uang?'

Telah Dipercaya & Bekerja Sama Dengan

Kominfo Partner Partner Partner Partner Tripay Partner Interactive Partner Partner