Javas Corner - Sebuah video yang memperlihatkan seorang pemotor sedang emosi karena ditarik karcis di tengah jalan desa mendadak viral di media sosial. Momen yang terjadi di area persawahan ini sontak menuai beragam reaksi dari warganet, mulai dari dukungan hingga kritik terhadap panitia acara karnaval sound horeg yang disebut memungut biaya di lokasi yang tidak semestinya.
Peristiwa yang menggemparkan jagat maya ini ternyata terjadi di Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (5/9/2026) lalu. Video yang beredar luas di platform Instagram dan TikTok memperlihatkan seorang pengendara sepeda motor yang sedang dalam perjalanan menuju sawah untuk bekerja, tiba-tiba diberhentikan oleh sekelompok pemuda yang berjaga di jalan desa.
Dalam rekaman tersebut, tampak pemotor yang kemudian diketahui bernama Ebi Lutfi Wirianti itu sedang meluapkan kekesalannya karena diminta membayar karcis atau tiket masuk, padahal ia hanya ingin melintas melewati jalur yang biasa ia lewati setiap hari menuju ladangnya. Narasi yang menyertai video juga menyebutkan bahwa pemotor tersebut merasa tidak seharusnya dipungut biaya karena ia bukan pengunjung acara, melainkan warga lokal yang hendak bekerja.
Heboh di Medsos, Netizen Bela Pemotor
Viralnya video tersebut langsung memicu gelombang simpati dari para pengguna media sosial. Banyak yang menilai bahwa penarikan karcis di tengah jalan umum yang digunakan untuk akses warga merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Komentar-komentar bernada kritik pun membanjiri kolom komentar, bahkan beberapa di antaranya menuntut agar panitia karnaval meminta maaf kepada pemotor.
Tak butuh waktu lama, gelombang kritik ini ternyata sampai ke telinga pihak keluarga dan panitia. Pada Senin (7/9/2026), sebuah video klarifikasi pun muncul dan menjadi penutup dari perdebatan yang sempat memanas di dunia maya.
Pemotor dan Ibu Menyampaikan Permohonan Maaf
Dalam video terbaru yang beredar, terlihat Ebi Lutfi Wirianti didampingi oleh ibunya serta sejumlah pemuda dan tokoh masyarakat Desa Barurejo. Mereka secara bersama-sama menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf atas kegaduhan yang dipicu oleh video sebelumnya.
"Saya atas nama Ebi Lutfi Wirianti ingin meminta maaf yang berkaitan dengan video saya yang telah viral ini. Pernyataan saya saat itu murni reaksi spontan di lapangan dan saya tidak bermaksud memperkeruh suasana," ujar Ebi dalam keterangannya dengan nada lebih tenang.
Ebi menjelaskan bahwa emosi yang ia tunjukkan dalam video pertama merupakan luapan kekesalan sesaat yang terjadi karena ia merasa terganggu. Namun setelah berkomunikasi dengan panitia dan tokoh masyarakat, ia menyadari bahwa penyelesaian yang baik adalah dengan mengedepankan musyawarah dan kekeluargaan.
"Ibu saya juga sudah menasehati agar masalah ini tidak diperpanjang dan kami berharap semuanya bisa kembali kondusif," tambah Ebi.
Lebih lanjut, Ebi juga memberikan masukan konstruktif agar pelaksanaan karnaval maupun parade sound horeg di masa mendatang dapat dikelola lebih rapi dan tertata, terutama mengenai skema penitipan kendaraan dan aturan penarikan karcis agar tidak merugikan warga setempat yang hanya ingin melintas.
Masuk Angin dan Berakhir dengan Damai
Dengan adanya klarifikasi dan penyelesaian secara kekeluargaan ini, persoalan antara warga dan panitia di Desa Barurejo diharapkan telah usai. Kedua belah pihak sepakat untuk saling memaafkan dan tidak memperpanjang masalah yang bisa mengganggu kerukunan warga.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak bahwa komunikasi yang baik dan penyelesaian secara musyawarah jauh lebih bijaksana daripada menyelesaikan masalah di ranah publik yang justru bisa memperuncing situasi. Semoga ke depan, pelaksanaan acara-acara serupa bisa lebih memperhatikan akses warga dan aturan yang lebih jelas.
Javas Corner akan terus memantau dan menyajikan berita-berita viral dan menarik lainnya. Pantau terus kanal kami untuk informasi terbaru.
#SoundHoreg #Barurejo #Banyuwangi #Viral #KarcisSoundHoreg #VideoViral #Siliragung #Karnaval #JavasCorner #MintaMaaf