Viral di media sosial video yang memperlihatkan seorang pria menganiaya petugas SPBU di kawasan Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dalam rekaman itu, pria tersebut terlihat memukul salah satu petugas sambil mengaku sebagai anggota polisi.
Peristiwa itu disebut-sebut terjadi pada Minggu, 22 Februari 2026. Video berdurasi singkat itu langsung menyebar luas dan menuai beragam kecaman dari warganet.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pria berbaju hitam berdiri di samping mobil sambil memaki-maki para petugas SPBU yang ada di depannya. Ia tampak emosi dan tak terkendali. Tak lama setelah melontarkan makian, pria itu langsung melayangkan pukulan ke arah wajah salah satu petugas.
Aksi brutal itu sempat coba dilerai oleh petugas lain maupun orang-orang di sekitar lokasi. Namun, pria tersebut tak juga mengendalikan emosinya. Ia terus mencaci-maki para petugas meski sudah ditarik oleh beberapa orang yang berusaha melerai.
Yang membuat peristiwa ini semakin ramai diperbincangkan adalah klaim bahwa pria tersebut mengaku sebagai aparat penegak hukum. Dalam narasi yang beredar di media sosial, ia disebut-sebut mengatakan dirinya anggota polisi saat memaki dan memukul petugas SPBU.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian terkait kebenaran klaim tersebut. Polda Metro Jaya pun disebut bakal mendalami kasus ini untuk memastikan identitas pelaku sekaligus motif di balik aksi penganiayaan tersebut.
Warganet yang geram ramai meminta agar pelaku segera ditangkap dan diproses hukum. Tak sedikit pula yang menyayangkan aksi kekerasan seperti ini masih saja terjadi, terlebih jika pelaku benar-benar seorang aparat yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat.
SPBU sendiri merupakan tempat umum yang rawan konflik, terutama karena banyaknya antrean dan potensi kesalahpahaman antara petugas dan pelanggan. Namun, kekerasan fisik tetap tak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Peristiwa di Cipinang ini menjadi pengingat bahwa emosi harus tetap dikendalikan, terlepas dari profesi atau latar belakang seseorang. Apalagi jika sampai mengatasnamakan institusi tertentu, hal itu bisa memperburuk citra dan kepercayaan publik.
Publik pun kini menanti perkembangan kasus ini. Apakah pelaku benar seorang anggota polisi atau hanya orang biasa yang mengaku-ngaku demi menakut-nakuti korban. Yang pasti, aksi kekerasan di ruang publik seperti ini tak bisa dibiarkan begitu saja.