Javas Corner - Insiden kecelakaan Alex Rins saat sesi Practice Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit menjadi sorotan setelah videonya beredar luas di media sosial. Pembalap Yamaha itu terlihat tidak langsung diantar kembali ke paddock setelah terjatuh, yang memicu kritik warganet terhadap marshal Mandalika yang dinilai kurang sigap membantu pembalap.
Mantan Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022–2026, Priandhi Satria, menjelaskan bahwa insiden tersebut perlu dipahami berdasarkan prosedur operasional dan pembagian tugas petugas di lintasan. Menurut Andhi, kendaraan yang digunakan petugas dalam video tersebut merupakan flying marshal, bukan moto taxi. Keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda dalam mendukung operasional balapan.
"Motor yang dipakai itu merupakan motor flying marshal dan BUKAN kendaraan moto taxi. Di bagian belakangnya terlihat ada APAR atau alat pemadam api ringan," jelas Andhi berdasarkan informasi dari beberapa pihak.
Andhi menerangkan bahwa flying marshal bertugas mendukung pengawasan dan penanganan situasi di lintasan. Petugas yang menggunakan kendaraan ini hanya diperbolehkan mengantarkan pembalap hingga titik transit kendaraan penjemputan yang telah disiapkan penyelenggara. Titik transit tersebut menjadi lokasi peralihan sebelum pembalap melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan lain sesuai kebutuhan evakuasi. Mekanisme ini merupakan bagian dari prosedur keselamatan yang telah disepakati Race Director melalui safety plan sebelum balapan berlangsung.
"Jadi, mereka telah melakukan sesuai SOP tugasnya masing-masing. Flying Marshal yang terlihat di video, memang hanya bisa mengantarkan sampai titik transit car yang sudah disetujui dan sudah disiapkan dari sebelumnya," kata Andhi Satria yang merupakan salah satu pemegang lisensi FIM tertinggi di Indonesia.
Ia menambahkan bahwa pembalap memang ingin segera kembali ke garasi setelah mengalami kecelakaan. Namun, petugas flying marshal tidak bisa meninggalkan area kerjanya terlalu lama karena harus kembali menjalankan tanggung jawab di lintasan. Rider pasti maunya diantar secepat mungkin untuk sampai kembali garasinya. Itu memungkinkan jika memakai moto taxi, tetapi tidak memungkinkan jika kebetulan dia diantar menggunakan kendaraan flying marshal, karena itu akan berarti petugas marshal tersebut meninggalkan area pos kerja mereka terlalu lama, dan tidak sesuai prosedur yang telah ditentukan.
Chairman Grand Prix of Indonesia 2026, Troy Reza Warokka, juga menegaskan bahwa penolakan marshal bukan bentuk kelalaian. Menurutnya, aturan MotoGP mengharuskan pebalap yang mengalami kecelakaan atau kendala teknis dievakuasi menggunakan mobil. Motor yang mesinnya mati setelah terjatuh juga tidak boleh dinyalakan kembali di pinggir lintasan. Aturan tersebut diterapkan demi menjaga privasi dan keamanan pebalap saat kembali ke paddock.
"Jadi ada perdebatan yang terjadi di lapangan bermula dari ketatnya aturan evakuasi pebalap di dalam sirkuit," kata Troy. Ia menyebut bahwa petugas sempat mendapat intimidasi untuk melanggar prosedur, tetapi marshal tetap bertahan pada aturan yang berlaku.
Insiden bermula saat Rins mengalami kecelakaan menjelang akhir sesi Practice pada Jumat (9/10/2026). Saat itu, sesi latihan hanya menyisakan sekitar dua menit. Karena mesin motornya mati, Rins tidak bisa menyalakannya kembali di pinggir lintasan sesuai aturan MotoGP, dan ia tidak memiliki cukup waktu untuk kembali melanjutkan latihan.
Rins kemudian meminta bantuan marshal untuk kembali ke pit. Namun, permintaan itu memicu perdebatan karena kendaraan yang tersedia bukan untuk mengangkut pebalap. Video yang memperlihatkan Rins mengacungkan jari tengah ke arah marshal kemudian beredar luas di media sosial dan menjadi sorotan.
Beberapa jam setelah insiden tersebut, Alex Rins menyampaikan permintaan maafnya melalui akun Instagram pribadinya. "A moment of tension in the middle of the practice... I apologize to the marshal," tulis Rins dalam unggahannya.
Andhi juga mengapresiasi pelatihan petugas lintasan yang dilakukan tim motorsport MGPA di bawah kepemimpinan Direktur Utama Ananda Mikola. Menurutnya, pembekalan dan penyegaran sebelum penyelenggaraan balapan penting agar marshal memahami tugas serta mampu mengambil keputusan sesuai ketentuan yang berlaku. Mereka tahu mana yang benar, mana yang salah, dan berani berkata tidak untuk sesuatu hal yang mereka rasa memang salah.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pemahaman publik terhadap mekanisme penanganan kecelakaan dalam balapan MotoGP. Bantuan kepada pembalap harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keselamatan lintasan dan memastikan petugas tetap berada pada posisi yang dibutuhkan.
#MotoGPMandalika2026 #AlexRins #MarshalMandalika #FlyingMarshal #MotoGPIndonesia #SirkuitMandalika #BeritaMotoGP #Otomotif #BeritaViral #JavasCorner