Sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu marah-marah di sebuah pondok pesantren di Lumajang mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman itu, ibu tersebut tampak emosi lantaran anaknya digunduli rambutnya oleh pihak pesantren. Ia mengancam akan memviralkan kejadian itu dan mengaku sebagai istri polisi.
Video yang pertama kali diunggah oleh akun TikTok @kingzadma itu langsung menuai perhatian warganet. Beragam komentar pun bermunculan. Ada yang membela pihak pesantren, tak sedikit pula yang mendukung kemarahan sang ibu. Dalam hitungan jam, video tersebut sudah ditonton lebih dari 108 ribu kali.
Namun, belakangan diketahui bahwa video yang viral tersebut ternyata bukanlah kejadian nyata. Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syarifiy 1, Ahmad Syaifudin Amin, angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa video itu sebenarnya adalah bagian dari proses pembuatan film santri di lingkungan pesantren mereka.
Menurutnya, dalam unggahan aslinya sebenarnya sudah ada keterangan atau caption yang menjelaskan bahwa video tersebut merupakan behind the scene atau cuplikan di balik layar pembuatan film. Sayangnya, banyak warganet yang tidak membaca caption hingga akhirnya salah paham dan mengira peristiwa itu benar-benar terjadi.
"Banyak netizen yang salah paham karena tidak membaca caption, dikira ini kejadian sesungguhnya," ujar Amin, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan bahwa film tersebut sengaja dibuat sebagai media edukasi kepada para wali santri. Tujuannya agar para orang tua tidak terlalu mencampuri kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren. Penggundulan rambut sendiri merupakan salah satu sanksi yang memang sudah lama diterapkan bagi santri yang melanggar aturan, seperti kedapatan merokok.
Meski video itu hanya konten, pihak pesantren tetap menyampaikan permohonan maaf apabila unggahan tersebut telah menimbulkan kegaduhan atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih teliti sebelum mempercayai atau menyebarkan video yang beredar di media sosial. Tidak semua hal yang viral adalah fakta. Terkadang, ada konteks atau keterangan yang terlewat, seperti caption yang tidak sempat terbaca. Akibatnya, persepsi publik bisa keliru dan menimbulkan polemik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Di era digital seperti sekarang, literasi media menjadi semakin penting. Membaca judul saja tidak cukup. Memastikan kebenaran informasi sebelum bereaksi adalah langkah bijak yang harus dibiasakan.