Javas Corner - Isu mengenai masuknya teknologi pengawasan atau spyware asal Israel ke Indonesia kembali mencuat. Salah satu yang paling fenomenal adalah Pegasus, alat sadap buatan NSO Group yang dirancang untuk menyusup ke sistem operasi ponsel secara rahasia dan mengambil alih kendali penuh atas data di dalamnya.
Selain Pegasus, ternyata ada beberapa alat pengawasan dan intelijen siber asal Israel lainnya yang sempat terdeteksi masuk atau digunakan di Indonesia melalui jaringan pihak ketiga. Masyarakat pun perlu mengenali karakteristik dan bahayanya.
Berikut adalah rincian mengenai alat-alat sadap tersebut beserta cara kerjanya:
1. Pegasus (NSO Group)
Alat ini menggunakan metode zero-click. Artinya, ponsel target bisa terinfeksi tanpa korban harus mengeklik tautan atau membuka pesan apa pun. Kemampuannya sangat mengerikan, mulai dari membaca pesan teks terenkripsi seperti WhatsApp atau Signal, melacak lokasi real-time, menyalin foto, hingga menyalakan kamera dan mikrofon ponsel secara diam-diam untuk merekam pembicaraan. Laporan jurnalisme investigasi mengindikasikan sistem ini diduga masuk ke Indonesia melalui perusahaan perantara di luar negeri.
2. Predator (Intellexa Consortium)
Spyware yang awalnya dikembangkan di Israel sebelum pindah operasi ke Eropa ini memiliki fitur invasif serupa dengan Pegasus. Predator mampu mencuri kata sandi, merekam panggilan, serta menyusup ke seluruh berkas digital di dalam ponsel pintar. Merek alat pengawasan ini sempat ramai diperbincangkan dalam pusaran kasus dugaan penyadapan politik di Tanah Air.
3. Wintego Systems
Ini adalah perusahaan intersepsi siber asal Israel yang fokus pada ekstraksi data digital dan pemantauan sinyal nirkabel. Teknologinya sering menggunakan pendekatan intersepsi jaringan atau manipulasi Wi-Fi dan seluler untuk menangkap lalu lintas data sebelum data tersebut sampai ke enkripsi akhir. Berdasarkan laporan Amnesty International, domain berbahaya yang terafiliasi dengan infrastruktur Wintego sempat terdeteksi aktif di Indonesia.
4. Circles
Masih terafiliasi dengan NSO Group, Circles berfokus pada eksploitasi kelemahan jaringan seluler global, khususnya pada protokol SS7. Alat ini tidak perlu menyusupkan aplikasi ke ponsel. Ia menyadap langsung melalui jaringan telekomunikasi dengan memanfaatkan kerentanan kartu SIM, sehingga memungkinkannya melacak lokasi ponsel serta mengintersepsi panggilan dan SMS masuk di seluruh dunia.
Lantas, bagaimana alat-alat ini bisa masuk ke Indonesia? Mengingat Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, pasokan teknologi pengawasan siber ini umumnya masuk melalui perusahaan cangkang atau vendor pihak ketiga yang berbasis di negara sekutu. Transaksi bernilai fantastis pun dialirkan lewat broker internasional agar produk intelijen taktis ini tetap bisa dibeli oleh lembaga penegak hukum maupun badan siber.
Fakta ini menjadi peringatan serius bagi keamanan siber nasional. Penguatan regulasi dan pengawasan terhadap alat intersepsi menjadi hal yang mutlak agar hak privasi warga negara tidak dilanggar.
#Spyware #Pegasus #AlatSadap #KeamananSiber #Israel #Wintego #Predator #BeritaTeknologi #Privasi #JavasCorner