JAVASCORNER.CO.ID, YAMAN - Pemerintah Yaman secara resmi mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran vital di Timur Tengah. Ancaman ini muncul sebagai bentuk dukungan kepada Iran yang sedang berkonflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan disampaikan pejabat militer Yaman pada 28 Februari, menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Ancaman Blokade Strategis
Komandan senior militer Yaman, Abed al-Thawr, menyatakan blokade laut menjadi opsi utama. "Begitu keputusan intervensi dibuat, langkah pertama adalah deklarasi resmi blokade," tegasnya kepada Press TV. Kapal dagang dan kapal perang musuh akan menjadi target jika ancaman dijalankan.
Pernyataan ini diperkuat Mohammed al-Bukhaiti dari biro politik Ansarallah. Ia mengkonfirmasi koordinasi dengan Iran sudah matang. "Jari kami ada di pelatuk," ujarnya mengenai kemungkinan keterlibatan Yaman. Ancaman ini langsung mendapat perhatian internasional.
Dampak Ekonomi Global
Selat Bab al-Mandab merupakan urat nadi perdagangan dunia. Data menunjukkan 12% total perdagangan global melewati selat sempit ini. Sekitar 8-10% minyak mentah laut juga melintas di perairan antara Yaman dan Djibouti.
Pada 2023, diperkirakan 8,8 juta barel minyak melintas setiap harinya. Penutupan selat akan memaksa kapal mengambil rute alternatif mengelilingi Tanjung Harapan. Perjalanan akan memanjang dari 20-25 hari menjadi 30-40 hari.
Biaya bahan bakar bisa membengkak jutaan dolar. Harga minyak global sudah melonjak 40% dalam dua pekan terakhir. Ancaman ini menempatkan keamanan energi dunia dalam posisi rentan.
Eskalasi Konflik Regional
Ancaman Yaman muncul setelah operasi militer AS-Israel terhadap Iran. Serangan diluncurkan pada 28 Februari lalu, memicu balasan dan ketegangan di kawasan. Selat Bab al-Mandab yang berarti "Gerbang Air Mata" dalam legenda lokal memang dikenal berbahaya.
Navigasi sulit ditambah konflik membuat situasi semakin rumit. Analis memperingatkan dampak akan meluas ke rantai pasok global. Ketegangan ini menguji stabilitas kawasan yang sudah panas.
Dunia kini menunggu perkembangan berikutnya. Respons negara-negara terkait akan menentukan apakah ancaman menjadi kenyataan. Keamanan pelayaran internasional menjadi taruhannya.